Selasa, 17 Februari 2015

Kelebihan Dan Kelemahan Pola Kepemimpinan KH Ali Maksum - (2)


_______________________________
Oleh : Achmad Suchaimi






K.H. Ali Maksum sebagai seorang figur pemimpin karismatik sekaligus pemimpin tradisional, ada sisi-sisi kelebihan dan kelemahan dari pola kepemimpinan yang beliau kembangkan tersebut. Diantaranya sebagai berikut :
Pertama. Besarnya karisma semakin memperkokoh kepemimpinan K.H. Ali Maksum di pesantren Al-Munawwir. Sebagai seorang figur karismatik, K.H. Ali mampu menarik jumlah santri yang berjumlah ribuan untuk belajar di pesantren Al-Munawwir dan kondisi ini tidak pernah dialami sebelumnya, terutama sejak beliau dipercaya menjadi Rois ’Am PBNU (1981-1984) dan puncaknya ketika pesantren Al-Munawwir Krapyak dijadikan sebagai tuan rumah Muktamar NU ke-28 (1989), sehingga nama pesantren ini terkenal dimana-mana.
Kebesaran nama pesantren ini tentu saja lebih disebabkan oleh faktor pribadi K.H. Ali. Kebesaran Krapyak sebagai pesantren yang tidak sekedar mementingkan pengajaran Al-Qur’an, tetapi juga maju dalam pengajaran Kitab Kuning, mendorong santrinya memiliki semangat belajar secara otodidak, mengkaji berbagai literatur ulama salaf dan khalaf (modernis), dan berwawasan luas, adalah mencitrakan pribadi dan kedinamisan sang kiai.  Oleh karena kebesaran pesantren sangat tergantung pada figur kiai, sementara penggantinya tidak memiliki karisma sebesar yang dimiliki oleh kiai sebelumnya, tentu kebesaran nama pesantren tersebut tidak akan bertahan lama dan kembali menjadi redup sinarnya. Hal itulah yang terjadi di pesantren Al-Munawwir sepeninggal K.H. Ali Maksum, yakni menjadi sebuah pesantren yang kurang diperhitungkan lagi di pentas Nasional, apalagi di pentas Internasional.
Memang, dengan gaya kepemimpinan karismatik ini segala ajaran, perintah, instruksi,  dan gagasan K.H. Ali dapat dijalankan secara lancar dan efektif oleh para santri, ustadz dan para kiai pembantunya tanpa ada hambatan psikologis yang berarti. Motivasi dan nasehat yang diberikan kiai diterima santri sebagai sesuatu yang mencerminkan mutu kepribadian sang kiai yang diyakini bersumber dari anugerah Allah, sehingga tidak sedikit diantara para santri yang memiliki loyalitas yang tinggi kepada kiai, bahkan mereka nyaris mengorbankan apa saja (harta, tenaga, nyawa) demi ketaatannya pada kiai. Namun di sisi lain, gaya karismatik ini justru mendorong K.H. Ali memperkokoh bangunan otoritas tunggal. Beliau cenderung bertindak otoriter, semauanya sendiri tanpa memperhatikan unsur musyawarah, rasionalitas dan aturan legal formal, sehingga tata tertib atau tata aturan yang berlaku di pesantren menjadi mandul dan tidak efektif. Sekalipun K.H. Ali telah mendistribusikan kekuasaannya kepada beberapa kiai pembantunya untuk mengelola urusan tertentu[1], namun mereka tidak dapat menjalankannya secara efektif, kreatif dan independen, disebabkan kebijakan dan kreatifitas mereka terkadang berbenturan atau terganjal oleh gaya otoriter K.H. Ali. Akibatnya, perkembangan pesantren menjadi lamban.
Beberapa kasus di lembaga MTs dan MA membuktikan tindakan otoriter kiai Ali tersebut, diantara contohnya ialah : beberapa siswa yang diputuskan tidak naik kelas oleh rapat dewan guru disebabkan karena buruknya nilai, sering bolos dan tidak masuk sekolah, serta merta dinaikkan oleh kiai; judul dan materi kitab sebagai bahan pelajaran siswa selalu berubah-ubah tergantung kemauan kiai; setiap siswa baru diseleksi sendiri dan ditentukan kelasnya oleh kiai; beberapa atau seluruh siswa yang sedang mengikuti pelajaran didalam suatu kelas tiba-tiba diminta keluar untuk diajak bekerja bakti membersihkan lingkungan pesantren[2]
K.H.A. Mustofa Bisri
K.H.A. Mustofa Bisri pernah belajar di pesantren Al-Munawwir selama 3 tahun dan belum sempat lulus beliau sudah ”boyongan” (pulang kampung). Sewaktu akan melanjutkan belajarnya ke Universitas Al-Azhar Mesir, beliau minta dibuatkan surat keterangan/ijazah tingkat Aliyah sebagai syarat masuk ke Universitas Al-Azhar, tetapi ditolak oleh K.H. Zainal Abidin selaku kepala sekolahnya, dengan alasan karena beliau memang belum lulus. Namun oleh K.H. Ali, surat keterangan/ijazah  tersebut beliau buatkan sendiri, tanpa sepengetahuan K.H. Zainal Abidin.[3]
K.H. Abdurrahman Wachid
 Oleh karena gaya otoriter tersebut, maka distribusi kekuasaan dan tata aturan di pesantren Al-Munawwir menjadi tidak efektif, dan para kiai pembantu tidak dapat mengembangkan bakat dan kreatifitasnya,  sehingga perkembangan pesantren ke dapan menjadi lamban dan tidak menentu. Ada benarnya apa yang dikatakan oleh K.H. Abdurrahman Wachid, bahwa watak kepemimpinan karismatik kiai pesantren menyebabkan belum menetapnya pola kepemimpinan di pesantren selama ini.[4] Di samping masih ada empat kerugian lagi, yaitu:
1.  Munculnya ketidakpastian dalam perkembangan pesantren, karena segala sesuatu tergantung pada keputusan kiai;
2. Para tenaga pembantu kiai, termasuk didalamnya calon pengganti, kesulitan mengembangkan daya kreatifitasnya karena terganjal oleh tindakan otoriter sang kiai;  
3.    Pola penggantian pimpinan berjalan secara tiba-tiba dan tidak direncanakan sebelumnya secara matang; keempat, terjadinya pembauaran dan tumpang tindih dalam tingkat-tingkat kepemimpinan di pesantren.[5]
Kelemahan lain dari kepemimpinan karismatik ini ialah bahwa masyarakat yang terbiasa mengikuti pemimpin karismatik menjadikan dirinya merasa tergantung kepada nasehat, bimbingan dan kemampuan sang pemimpin. Dalam kondisi seperti ini, maka akan terjadi kekacauan dan kebingungan di tengah masyarakat pada saat sang pemimpin karismatik meninggal dunia, sementara itu tidak ada seorang pengganti yang memiliki kualitas karisma yang setara.

Kedua. Besarnya karisma pada diri K.H. Ali Maksum memposisikan dirinya sebagai figur sentral. Sebagai figur sentral, beliau dipadang sebagai sumber utama dalam soal kepemimpinan, ilmu pengetahuan dan misi pesantren. Seluruh penyelenggaraan pesantren, maju mundurnya pesantren, dan segala  persoalan di pesantren tergantung pada kemauan dan seleranya sendiri.  Dengan begitu, beliau merupakan inti dari pesantren itu sendiri. Beliau laksana seorang raja yang memiliki otoritas tunggal didalam kerajaan kecil pesantren. Hal ini menumbuhkan kesan bahwa pesantren adalah miliknya. Corak kepemimpinan semacam ini dapat dikatakan sebagai kepemimpinan individual.
Kondisi kepemimpinan semacam ini menyebabkan sang kiai merasa memiliki wewenang dan kekuasaan secara mutlak, dan pada gilirannya nanti sang kiai cenderung bersikap tertutup untuk menerima usulan strategik, pemikiran-pemikiran jenius dan kritik konstruktif dari orang luar dalam rangka pengembangan pesantren di masa depan. Corak kepemimpinan yang bersifat indivivual ini akan berakibat fatal bagi perkembangan pesantren di masa depan, sekaligus terjadinya krisis kepemimpinan, manakala putra mahkota atau calon pengganti tidak mampu melanjutkan kepemimpinan sang kiai, disebabkan tidak memiliki karisma sebesar yang dimiliki sang kiai, dan juga tidak memiliki kualitas pribadi, penguasaan ilmu, dan kemampuan dalam mengelola lembaga.
Sehubungan dengan uraian di atas, Nurcholis Madjid mencoba mendata kelemahan-kelemahan dari kepemimpinan kiai semacam ini, yaitu:
1.    Pola kepemimpinan karismatik cukup menunjukkan segi tidak demokratisnya disebabkan tidak rasional dan akan kehilangan kualitas demokratisnya.
2. Oleh karena kepemimpinan kiai bersifat karismatik, maka dengan sendirinya kepemimpinannya juga bersifat pribadi atau personal. Implikasinya, kepemimpinan kiai tidak mungkin dapat diganti oleh orang lain dan sulit ditundukkan oleh aturan-aturan administrasi dan managemen modern.
3.  Seorang kiai selain sebagai pemimpin agama juga sebagai penggerak massa dalam masyarakat feodal (religio-feodalisme). Feodalisme yang terbungkus keagamaan ini bila disalahgunakan akan lebih berbahaya daripada feodalisme biasa.
4.  Karena dasar kepemimpinannya seperti itu, maka faktor kecakapan, skill atau kemampuan teknis menjadi tidak begitu penting. Kekurangan ini menjadi salah satu penyebab pokok tertinggalnya pesantren dari perkembangan jaman.[6]

Ketiga. Suksesi kepemimpinan kiai sebagian besar pesantren, termasuk di pesantren Al-Munawwir, adalah berlaku seumur hidup dan estafet kepemimpinannya diwariskan secara turun-temurun dari kiai ke para putra lelakinya, menantu lelakinya dan cucu-cucu lelakinya, diantaranya melalui proses penunjukan dari kiai, penyiapan putra mahkota, atau wasiat.  Dengan begitu, kaderisasi yang dilakukannya hanya terbatas pada keturunan dan keluarga pesantren.
Model suksesi dan kaderisasi semacam itu di satu sisi terdapat kelebihan, diantaranya bahwa proses pergantian kepemimpinan semacam ini relatif lebih lancar dan aman, tanpa menimbulkan gejolak dan hambatan yang berarti. Selain itu, para calon yang dikader tentu lebih memiliki kesiapan daripada yang tidak dikader. Namun kekurangannya ialah jika mereka yang dipersiapkan tersebut ternyata kurang mumpuni atau tidak memiliki kualitas pribadi yang setara dengan pemimpin sebelumnya, baik dari segi besarnya karisma, luasnya wawasan, penguasaan keilmuan, maupun dari segi kemampuan dalam pengelolaan lembaga, maka akan berakibat fatal pada kemunduran lembaga yang dipimpinnya di masa depan, karena tipe kepemimpinan tradisional dan karismatik itu identik dengan figur pemimpin itu sendiri, sehingga kaberhasilan dan kegagalannya sangat ditentukan oleh faktor pribadi pemimpinnya. 
 
KH Zainal Abidin
Kelemahan lainnya, bahwa proses estafet kepemimpinannya terkadang menimbulkan kekisruhan dan perebutan kepemimpinan, kalau hal itu tidak ada penunjukan yang jelas atau secara langsung dari kiai (pemimpin) yang bersangkutan tentang siapa yang bakal menggantikannya. Kekisruhan semacam itu pernah terjadi di pesantren Al-Munawwir sepeninggal K.H. Ali Maksum, antara K.H. Zainal Abidin Munawwir dan K.H. Atabik Ali.  
 
KH A. Warson
K.H. Dalhar

Keempat. Pola kepemimpinan pesantren pada umumnya, dan di pesantren Al-Munawwir pada khususnya, masih kental dengan unsur-unsur kekuasaan patrimonial yang bertumpu pada ikatan keluarga. Kepemimpinannya lebih bersifat paternalistik (bapakisme). Dalam hal ini, orang-orang yang menjabat pimpinan dan menduduki posisi-posisi penting di pesantren dijabat oleh anggota keluarga besar pesantren, yaitu mereka yang memiliki hubungan keluarga, darah/nasab, perkawinan, dan hubungan yang sangat intim antara kiai dan santri. Segi kualitas kepribadiannya, luas-dalamnya pengetahuan, kemampuannya dalam pegelolaan lembaga, dan segi profesionalitas, terkadang diabaikan dan tidak menjadi prioritas utama.  Hal ini dibuktikan selama periode kepemimpinan Tiga Serangkai  dan periode kepemimpinan K.H. Ali Maksum, bahwa jabatan strategis dan penting di pesantren Krapyak dijabat oleh keluarga pesantren, seperti K.H. Zainal Abidin Munawwir sebagai kepala Madrasah Aliyah Salafiyah sekaligus sebagai wakil umum kepengasuhan pesantren; K.H.A. Warson Munawwir sebagai pengasuh pengajian kitab di komplek Q; K.H. Dalhar Munawwir dan K.H. Mufid Mas’ud (Menantu K.H.M. Munawwir) sebagai pengasuh santri putri dengan segala aktifitas pengajarannya di komplek N; K.H. Ahmad Munawwir dan K.H. Muhammad Najib Abdul Qodir sebagai pengasuh dan pengelola Madrasatul Huffazh; K.H. Zaini Munawwir, Nyai Badriyah Munawwir, Nyai Hj. Hasyimah Munawwir, Nyai Hj. Durrotun Nafisah Ali, dan Nyai Hj. Lutfiyah Jirjis menangani pengajaran Al-Qur’an untuk santri dari masyarakat sekitar pesantren; K.H. Masyhuri AU (menantu K.H. Abd. Qodir) sebagai kepala MTs Al-Munawwir;  K.H.M. Hasbullah (menantu K.H. Ali) menjadi kepala MA Al-Munawwir). Selain keluarga, beberapa santri senior yang memiliki hubungan sangat dekat dengan K.H. Ali pun dipercaya menduduki jabatan penting lainnya seperti K.H. Asyhari Abta, K.H. Henri Sutopo, K.H. Munawwir AF, dan lain-lain. Maka sangat sulit bagi orang-orang luar pesantren untuk menduduki jabatan-jabatan penting di pesantren, kecuali sekedar sebagai guru biasa atau tenaga administratif, karena mereka tidak memiliki hubungan kekeluargaan seperti uraian di atas, sekalipun mereka memiliki kecakapan, kemampuan, dan keilmuan lebih, serta lebih profesional.




[1] Misalnya KHM Hasbullah sebagai kepala Madrasah Aliyah, Al-Munawwir,  KH Masyhuri AU sebagai kepala MTs Al-Munawwir, KH Dalhar Munawwir mengelola santri putri dan Madrasah Diniyah Banat, KH Ahmad Munawwir dan K.H.M. Najib Abdul Qodir mengelola Madrasatul Huffazh, KH Zainal Abidin mengelola takhassus, dan lain-lain.
[2]  Wawancara dengan Drs. KH Asyhari Abta dan KH Henri Sutopo, pada tanggal 17-07-2010.
[3]  Abu Asma Anshari dkk,  Ngetan Ngulon Ketemu Gus Mus, Refleksi 61 tahun K.H.A. Mustofa Bisri.  Semarang: HMT Foundation, 2005, hal. 55-56.
.... Kata K.H. Zainal Abidin: ”Wah ... ya enggak bisa Mus. Kamu kan tahu sendiri yang sudah lulus dan menjalani pengabdian mengajar satu tahun saja belum tentu saya beri ijazah. Lha kamu lulus saja tidak, kok minta ijazah. Nanti bagaimana pertanggungjawabanku di yaumil hisab?”.....
Untungnya, lain Kiai Zainal lain Kiai Ali. Rupanya bagi Kiai Ali, peraturan itu tidak mesti berlaku ketat untuk semua santri. ”Sudah nanti saya buatkan surat keterangan”, kata Kiai Ali menjanjikan. ”Kiai Zainal itu pangkatnya kan tinggi saya. Dia cuma direktur sekolah, sedangkan saya direktur pesantren yang membawahi sekolahan”, kata Kiai Ali berkelakar. .....
[4]  Abdurrahman Wahid, Bunga Rampai Pesantren, CV Dharma Bhakti, t.t., hal. 167
[5]  Ibid, hal. 168-169.
[6]   Nurcholish Madjid, Bilik-Bilik Pesantren : Sebuah Potret Perjalanan, Jakarta: Paramadina, 1992, halm., 95-96.



Minggu, 15 Februari 2015

Kisah Nyata “CINTA SUCI” Sepasang Professor Syaraf & Jantung



_____________________________________
Dinukil dari  Buku “Singkat Padat”




“...... Kini tiba saatnya kita semua mendengarkan nasihat pernikahan untuk kedua mempelai yang akan disampaikan oleh yang terhormat Prof. Dr. Mamduh Hasan  Al-Ganzouri . Beliau adalah Ketua Ikatan Dokter Kairo dan Dikrektur Rumah Sakit Qashrul Aini, seorang pakar syaraf terkemuka di Timur Tengah, yang  tak lain adalah juga dosen kedua mempelai. Kepada Professor dipersilahkan...”, 

--------------------------

Suara pembawa acara Walimatul Urs itu menggema di seluruh ruangan resepsi pernikahan nan mewah di Hotel Hilton Ramses yang terletak di tepi sungai Nil, Kairo.
 Seluruh hadirin menanti dengan penasaran, apa kiranya yang akan  disampaikan pakar Syaraf jebolan London itu. Hati mereka menanti-nanti mungkin akan ada kejutan baru mengenai hubungan pernikahan dengan kesehatan syaraf dari professor yang murah senyum dan sering nongol di televisi itu.
Sejurus kemudian, seorang laki-laki separuh baya berambut putih melangkah menuju podium. Langkahnya tegap. Air muka di wajahnya memancarkan wibawa. Kepalanya yang sedikit botak, meyakinkan bahwa ia memang seorang ilmuwan berbobot. Sorot matanya yang tajam dan kuat, mengisyaratkan pribadi yang tegas. Begitu sampai di podium, kamera video dan lampu sorot langsung shoot ke arahnya. Sesaat sebelum bicara, seperti biasa, ia sentuh gagang kacamatanya,
lalu ............................................
 ---------------------------------

 “Bismillah, alhamdulillah, washalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du. Sebelumnya saya mohon ma’af , saya tidak bisa memberi nasihat lazimnya para ulama, para mubaligh dan para ustadz. Namun pada kesempatan kali ini perkenankan saya bercerita...Cerita yang hendak saya sampaikan kali ini bukan fiktif belaka dan bukan cerita biasa. Tetapi sebuah pengalaman hidup yang tak ternilai harganya, yang telah saya kecap dengan segenap jasad dan jiwa saya. Harapan saya, mempelai berdua dan hadirin sekalian yang dimuliakan Allah bisa mengambil hikmah dan pelajaran yang dikandungnya. Ambillah mutiaranya dan buanglah lumpurnya.”
Saya berharap Kisah Nyata saya ini bisa melunakkan hati yang keras, melukiskan nuansa-nuansa cinta dalam kedamaian, serta menghadirkan kesetiaan pada segenap hati yang menangkapnya.
Tiga puluh tahun yang lalu ... Saya adalah seorang pemuda, hidup di tengah keluarga bangsawan menengah ke atas. Ayah saya seorang perwira tinggi, keturunan “Pasha” yang terhormat di negeri ini. Ibu saya tak kalah terhormatnya, seorang lady dari keluarga aristokrat terkemuka di Ma’adi, ia berpendidikan tinggi, ekonom jebolan “Sorbonne” Prancis yang memegang jabatan penting dan sangat dihormati kalangan elit politik di negeri ini.
 Saya anak sulung, adik saya dua, lelaki dan perempuan. Kami hidup dalam suasana aristokrat dengan tatanan hidup tersendiri. Perjalanan hidup sepenuhnya diatur dengan undang-undang dan norma aristokrat. Keluarga besar kami hanya mengenal pergaulan dengan kalangan aristokrat atau kalangan high class yang sepadan!
 Entah kenapa, saya merasa tidak puas dengan cara hidup seperti ini. Saya merasa terkungkung dan terbelenggu dengan strata sosial yang didewa-dewakan keluarga. Saya tidak merasakan benar hidup yang saya cari. Saya lebih merasa hidup justru saat bergaul dengan teman-teman dari kalangan bawah yang menghadapi hidup dengan penuh rintangan dan perjuangan. Hal ini ternyata membuat gusar keluarga saya. Mereka menganggap saya ceroboh dan tidak bisa menjaga status sosial keluarga. Pergaulan saya dengan orang yang selalu basah keringat dalam mencari pengganjal perut dianggap memalukan keluarga. Namun saya tidak peduli.
 Karena ayah memperoleh warisan yang sangat besar dari kakek, dan ibu mampu mengembangkannya dengan berlipat ganda, maka kami hidup mewah dengan selera tinggi. Jika musim panas tiba, kami biasa berlibur ke luar negri, ke Paris, Roma, Sydney atau kota besar dunia lainnya. Jika berlibur di dalam negeri ke Alexandria misalnya, maka pilihan keluarga kami adalah hotel San Stefano atau hotel mewah di Montaza yang berdekatan dengan istana Raja Faruq.
 Begitu masuk fakultas kedokteran, saya dibelikan mobil mewah. Berkali-kali saya minta pada ayah untuk menggantikannya dengan mobil biasa saja, agar lebih enak bergaul dengan teman-teman dan para dosen. Tetapi beliau menolak mentah-mentah. “Justru dengan mobil mewah itu kamu akan dihormati siapa saja” tegas ayah. Terpaksa saya pakai mobil itu meskipun dalam hati saya membantah habis-habisan pendapat materialis ayah. Dan agar lebih nyaman di hati, saya parkir mobil itu agak jauh dari tempat kuliah.
Ketika itu saya jatuh cinta pada teman kuliah. Seorang gadis yang penuh pesona lahir batin. Saya tertarik dengan kesederhanaan, kesahajaan, dan kemuliaan ahlaknya. Dari keteduhan wajahnya saya menangkap dalam relung hatinya tersimpan kesetiaan dan kelembutan tiada tara. Kecantikan dan kecerdasannya sangat menakjubkan. Ia gadis yang beradab dan berprestasi, sama seperti saya.
Gayung pun bersambut. Dia ternyata juga mencintai saya. Saya merasa telah menemukan pasangan hidup yang tepat. Kami berjanji untuk menempatkan cinta ini dalam Ikatan Suci yang diridhai Allah, yaitu Ikatan Pernikahan. Akhirnya kami berdua lulus dengan nilai tertinggi di fakultas. Maka datanglah saat untuk mewujudkan impian kami berdua menjadi kenyataan. Kami ingin memadu cinta penuh bahagia di jalan yang lurus.
 Saya buka keinginan saya untuk melamar dan menikahi gadis pujaan hati pada keluarga. Saya ajak dia berkunjung ke rumah. Ayah, ibu, dan saudara-saudara saya semuanya takjub dengan kecantikan, kelembutan, dan kecerdasannya. Ibu saya memuji cita rasanya dalam memilih warna pakaian serta tutur bahasanya yang halus. Usai kunjungan itu, ayah bertanya tentang pekerjaan ayahnya. Begitu saya beritahu, serta merta meledaklah badai kemarahan ayah dan membanting gelas yang ada di dekatnya. Bahkan beliau mengultimatum: Pernikahan ini tidak boleh terjadi selamanya!
 Beliau menegaskan bahwa selama beliau masih hidup rencana pernikahan dengan gadis berakhlak mulia itu tidak boleh terjadi. Pembuluh otak saya nyaris pecah pada saat itu menahan remuk redam kepedihan batin yang tak terkira.
 Hadirin semua, apakah anda tahu sebabnya…? Kenapa ayah saya berlaku sedemikian sadis…? Sebabnya, karena ayah calon istri saya itu tukang cukur.... tukang cukur, ya... sekali lagi tukang cukur! Saya katakan dengan bangga. Karena, meski hanya tukang cukur, dia seorang lelaki sejati. Seorang pekerja keras yang telah menunaikan kewajibannya dengan baik kepada keluarganya. Dia telah mengukir satu prestasi yang tak banyak dilakukan para bangsawan “Pasha”. Lewat tangannya ia lahirkan tiga dokter, seorang insinyur dan seorang letnan, meskipun dia sama sekali tidak mengecap bangku pendidikan.
 Ibu, saudara dan semua keluarga berpihak kepada ayah. Saya berdiri sendiri, tidak ada yang membela. Pada saat yang sama adik saya membawa pacarnya yang telah hamil 2 bulan ke rumah. Minta direstui. Ayah ibu langsung merestui dan menyiapkan biaya pesta pernikahannya sebesar 500 ribu pounds.
Saya protes kepada mereka, kenapa ada perlakuan tidak adil seperti ini? Kenapa saya yang ingin bercinta di jalan yang lurus tidak direstui, sedangkan adik saya yang jelas-jelas telah berzina, bergonta-ganti pacar dan akhirnya menghamili pacarnya yang entah yang ke berapa di luar akad nikah malah direstui dan diberi fasilitas maha besar?
Dengan enteng ayah menjawab. “Karena kamu memilih pasangan hidup dari strata yang salah dan akan menurunkan martabat keluarga, sedangkan pacar adik kamu yang hamil itu anak menteri, dia akan menaikkan martabat keluarga besar Al Ganzouri.”
Hadirin semua, semakin perih luka dalam hati saya. Kalau dia bukan ayah saya, tentu sudah saya maki habis-habisan. Mungkin itulah tanda kiamat sudah dekat, yang ingin hidup bersih dengan menikah dihalangi, namun yang jelas berzina justru difasilitasi.
 Dengan menyebut Asma’ Allah, saya putuskan untuk membela cinta dan hidup saya. Saya ingin buktikan pada siapa saja, bahwa cara dan pasangan bercinta pilihan saya adalah benar. Saya tidak ingin apa-apa selain menikah dan hidup baik-baik sesuai dengan tuntunan suci yang saya yakini kebenarannya. Itu saja.
 Saya bawa kaki ini melangkah ke rumah kasih dan saya temui ayahnya. Dengan penuh kejujuran saya jelaskan apa yang sebenarnya terjadi, dengan harapan beliau berlaku bijak merestui rencana saya. Namun, la haula wala quwwata illa billah, saya dikejutkan oleh sikap beliau setelah mengetahui penolakan keluarga saya. Beliaupun menolak mentah-mentah untuk mengawinkan putrinya dengan saya. Ternyata beliau menjawabnya dengan reaksi lebih keras, beliau tidak menganggapnya sebagai anak jika tetap nekad menikah dengan saya.
 Kami berdua bingung, jiwa kami tersiksa. Keluarga saya menolak pernikahan ini terjadi karena alasan Status Sosial, sedangkan keluarga dia menolak karena alasan membela kehormatan.
Berhari-hari saya dan dia hidup berlinang air mata, beratap dan bertanya kenapa orang-orang itu tidak memiliki kesejukan cinta? Setelah berpikir panjang, akhirnya saya putuskan untuk mengakhiri penderitaan ini. Suatu hari saya ajak gadis yang saya cintai itu ke Kantor Ma’dzun Syar’i (Petugas Pencatat Nikah) disertai 3 orang sahabat karibku. Kami berikan identitas kami dan kami minta ma’dzun untuk melaksanakan akad nikah kami secara syari’ah mengikuti mahzab Imam Hanafi.
Ketika Ma’dzun menuntun saya, “Mamduh, ucapkanlah kalimat ini: Saya terima nikah kamu sesuai dengan sunatullah wa rasulih dan dengan mahar yang kita sepakati bersama serta dengan memakai mahzab Imam Abu Hanifah.” Seketika itu bercucuranlah air mata saya, air mata dia dan air mata 3 sahabat saya yang tahu persis detail perjalanan menuju akad nikah itu.
Kami keluar dari kantor itu resmi menjadi suami-isteri yang sah di mata Allah SWT dan manusia. Saya bisikkan ke istri saya agar menyiapkan kesabaran lebih, sebab rasanya penderitaan ini belum berakhir. Seperti yang saya duga, penderitaan itu belum berakhir, akad nikah kami membuat murka keluarga. Prahara kehidupan menanti di depan mata.
Begitu mencium pernikahan kami, saya diusir oleh ayah dari rumah. Mobil dan segala fasilitas yang ada disita. Saya pergi dari rumah tanpa membawa apa-apa. Kecuali tas kumal berisi beberapa potong pakaian dan uang sebanyak 4 pound saja! Itulah sisa uang yang saya miliki sehabis membayar ongkos akad nikah di kantor ma’dzun.
Begitu pula dengan istriku, ia pun diusir oleh keluarganya. Lebih tragis lagi ia hanya membawa tas kecil berisi pakaian dan uang sebanyak 2 pound, tak lebih! Total kami hanya pegang uang 6 pound atau 2 dolar!!!
 Ah, apa yang bisa kami lakukan dengan uang 6 pound? Kami berdua bertemu di jalan layaknya gelandangan. Saat itu adalah bulan Februari, tepat pada puncak musim dingin. Kami menggigil, rasa cemas, takut, sedih dan sengsara campur aduk menjadi satu. Hanya saja saat mata kami yang berkaca-kaca bertatapan penuh cinta dan jiwa menyatu dalam dekapan kasih sayang, rasa berdaya dan hidup menjalari sukma kami. “Habibi, maafkan kanda yang membawamu ke jurang kesengsaraan seperti ini. Maafkan Kanda!
Tidak... Kanda tidak salah, langkah yang kanda tempuh benar. Kita telah berpikir benar dan bercinta dengan benar. Merekalah yang tidak bisa menghargai kebenaran. Mereka masih diselimuti cara berpikir anak kecil. Suatu ketika mereka akan tahu bahwa kita benar dan tindakan mereka salah. Saya tidak menyesal dengan langkah yang kita tempuh ini. Percayalah, insya Allah, saya akan setia mendampingi kanda, selama kanda tetap setia membawa dinda ke jalan yang lurus. Kita akan buktikan kepada mereka bahwa kita bisa hidup dan jaya dengan keyakinan cinta kita. Suatu ketika, saat kita gapai kejayaan itu, kita ulurkan tangan kita dan kita berikan senyum kita pada mereka dan mereka akan menangis haru. Air mata mereka akan mengalir deras seperti derasnya air mata derita kita saat ini,” jawab isteri saya dengan terisak dalam pelukan.
Kata-katanya memberikan sugesti luar biasa pada diri saya. Lahirlah rasa optimisme untuk hidup. Rasa takut dan cemas itu sirna seketika. Apalagi teringat bahwa satu bulan lagi kami akan diangkat menjadi dokter. Dan sebagai lulusan terbaik masing-masing dari kami akan menerima penghargaan dan uang sebanyak 40 pound.
 Malam semakin melarut dan hawa dingin semakin menggigit. Kami duduk di emperan toko berdua sebagai gembel yang tidak punya apa-apa. Dalam kebekuan, otak kami terus berputar mencari jalan keluar. Tidak mungkin kami tidur di emperan toko itu. Jalan keluar pun datang juga. Dengan sisa uang 6 pound itu kami masih bisa meminjam sebuah toko selama 24 jam.
Saya berhasil menghubungi seorang teman yang memberi pinjaman sebanyak 50 pound. Ia bahkan mengantarkan kami mencarikan losmen ala kadarnya yang murah. Saat kami berteduh dalam kamar sederhana, segera kami disadarkan kembali bahwa kami berada di lembah kehidupan yang susah, kami harus mengarunginya berdua dan tidak ada yang menolong kecuali cinta, kasih sayang dan perjuangan keras kami berdua serta rahmat Allah SWT.
Kami hidup dalam losmen itu beberapa hari, sampai teman kami berhasil menemukan rumah kontrakan sederhana di daerah kumuh Syubra Khaimah. Bagi  kaum aristokrat, rumah kontrakan kami mungkin dipandang sepantasnya adalah untuk kandang binatang kesayangan mereka. Bahkan rumah binatang kesayangan mereka mungkin lebih bagus dari rumah kontrakan kami.
Namun bagi kami adalah hadiah dari langit. Apapun bentuk rumah itu, jika seorang gelandangan tanpa rumah menemukan tempat berteduh, ia bagai mendapat hadiah agung dari langit. Kebetulan yang punya rumah sedang membutuhkan uang, sehingga dia menerima akad sewa tanpa uang jaminan dan uang administrasi lainnya. Jadi sewanya tak lebih dari 25 pound saja untuk 3 bulan.
 Betapa bahagianya kami saat itu, segera kami pindah ke sana. Lalu kami pergi membeli perkakas rumah untuk pertama kalinya. Tak lebih dari sebuah kasur kasar dari kapas, dua bantal, satu meja kayu kecil, dua kursi dan satu kompor gas sederhana sekali, kipas dan dua cangkir dari tanah, itu saja... tak lebih.
 Dalam hidup bersahaja dan belum dikatakan layak itu, kami merasa tetap bahagia, karena kami selalu bersama. Adakah di dunia ini kebahagiaan melebihi pertemuan dua orang yang diikat kuatnya cinta? Hidup bahagia adalah hidup dengan gairah cinta. Dan kenapakah orang-orang di dunia merindukan surga di akhirat? Karena di surga Allah menjanjikan cinta.
Ah, saya jadi teringat perkataan Ibnul Qayyim, bahwa nikmatnya persetubuhan cinta yang dirasa sepasang suami-isteri di dunia adalah untuk memberikan gambaran setetes nikmat yang disediakan Allah di surga. Jika percintaan suami-isteri itu nikmat, maka surga jauh lebih nikmat dari semua itu. Nikmat cinta di surga tidak bisa dibayangkan. Yang paling nikmat adalah cinta yang diberikan oleh Allah kepada penghuni surga, saat Allah memperlihatkan “Wajah”-Nya. Dan tidak semua penghuni surga berhak menikmati indahnya “Wajah” Allah SWT. Untuk nikmat cinta itu, Allah menurunkan petunjuknya yaitu Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Yang konsisten mengikuti petunjuk Allah-lah yang berhak memperoleh segala cinta di surga. Melalui penghayatan cinta ini, kami menemukan jalan-jalan lurus mendekatkan diri kepada-Nya.
 Istri saya jadi rajin membaca Al-Qur’an, lalu memakai jilbab, dan tiada putus shalat malam. Di awal malam dia menjelma menjadi Rabi’ah Adawiyah  yang larut dalam samudra munajat kepada Tuhan. Pada waktu siang dia adalah dokter yang penuh pengabdian dan belas kasihan. Dia memang wanita yang berkarakter dan berkepribadian kuat. Dia bertekad untuk hidup berdua tanpa bantuan siapapun, kecuali Allah SWT. Dia juga seorang wanita yang pandai mengatur keuangan. Uang sewa sebanyak 25 pound yang tersisa setelah membayar sewa rumah cukup untuk makan dan transportasi selama sebulan.
Tetanggga-tetangga kami yang sederhana sangat mencintai kami, dan kamipun mencintai mereka. Mereka merasa kasihan melihat kemelaratan dan derita hidup kami, padahal kami berdua adalah dokter. Sampai-sampai ada yang bilang tanpa disengaja,”Ah, kami kira para dokter itu pasti kaya semua, ternyata ada juga yang melarat sengsara seperti Mamduh dan isterinya.” Akrabnya pergaulan kami dengan para tetangga banyak mengurangi nestapa kami. Beberapa kali tetangga kami menawarkan bantuan-bantuan kecil layaknya saudara sendiri. Ada yang menawarkan kepada isteri agar menitipkan saja cuciannya pada mesin cuci mereka karena kami memang dokter  yang sibuk. Ada yang membelikan kebutuhan dokter. Ada yang membantu membersihkan rumah. Saya sangat terkesan dengan pertolongan- pertolongan mereka.
 Kehangatan tetangga itu seolah-olah pengganti kasarnya perlakuan yang kami terima dari keluarga kami sendiri. Keluarga kami bahkan tidak terpanggil sama sekali untuk mencari dan mengunjungi kami. Yang lebih menyakitkan mereka tidak membiarkan kami hidup tenang. Suatu malam, ketika kami sedang tidur pulas, tiba-tiba rumah kami digedor dan didobrak oleh 4 bajingan kiriman ayah saya. Mereka merusak segala perkakas yang ada. Meja kayu satu-satunya, mereka patah-patahkan. Begitu juga dengan kursi. Kasur tempat kami tidur satu-satunya mereka robek-robek. Mereka mengancam dan memaki kami dengan kata-kata kasar. Lalu mereka keluar dengan ancaman, “Kalian tak akan hidup tenang, karena berani menentang Tuan Pasha.”
 Yang mereka maksudkan dengan Tuan “Pasha” adalah ayah saya yang kala itu pangkatnya naik menjadi jendral. Keempat bajingan itu pergi. Kami berdua berpelukan, menangis bareng berbagi nestapa dan membangun kekuatan. Lalu kami tata kembali rumah yang hancur. Kami kumpulkan lagi kapas-kapas yang berserakan. Kami masukan lagi ke dalam kasur dan kami jahit kasur yang sobek-sobek tak karuan itu. Kami tata lagi buku-buku yang berantakan. Meja dan kursi yang rusak itu berusaha kami perbaiki. Lalu kami tertidur kecapaian dengan tangan erat bergenggaman, seolah eratnya genggaman inilah sumber rasa aman dan kebahagiaan yang meringankan intimidasi hidup ini.
 Benar, firasat saya mengatakan bahwa ayah tidak akan membiarkan kami hidup tenang. Saya mendapat kabar dari seorang teman bahwa ayah telah merancang skenario keji untuk memenjarakan isteri saya dengan tuduhan WTS (Wanita Tuna Susila). Semua orang juga tahu kuatnya intelijen militer di negeri ini. Mereka berhak melaksanakan apa saja dan undang-undang berada di telapak kaki mereka. Saya hanya bisa pasrah total kepada Allah mendengar hal itu.
 Dan Masya Allah! Ayah telah merancang skenario itu dan tidak mengurungkan niat jahatnya itu, kecuali setelah seorang teman karibku berhasil memperdaya beliau dengan bersumpah akan berhasil membujuk saya agar menceraikan isteri saya, dan meminta ayah untuk bersabar dan tidak menjalankan skenario itu, sebab kalau itu terjadi pasti pemberontakan saya akan menjadi lebih keras dan bisa berbuat lebih nekad.
 Tugas temanku itu adalah mengunjungi ayahku setiap pekan sambil meminta beliau sabar, sampai berhasil meyakinkan saya untuk mencerai isteriku. Inilah skenario temanku itu untuk terus mengulur waktu, sampai ayah turun marahnya dan melupakan rencana kejamnya. Sementara saya bisa mempersiapkan segala sesuatu lebih matang.
 Beberapa bulan setelah itu datanglah saat wajib militer. Selama satu tahun penuh saya menjalani wajib militer. Inilah masa yang saya takutkan, tidak ada pemasukan sama sekali yang saya terima kecuali 6 pound setiap bulan. Dan saya mesti berpisah dengan belahan jiwa yang sangat saya cintai. Nyaris selama 1 tahun saya tidak bisa tidur karena memikirkan keselamatan isteri tercinta. Tetapi Allah tidak melupakan kami, Dia-lah yang menjaga keselamatan hamba-hamba-Nya yang beriman. Isteri saya hidup selamat bahkan dia mendapatkan kesempatan magang di sebuah klinik kesehatan dekat rumah kami. Jadi selama satu tahun ini, dia hidup berkecukupan dengan rahmat Allah SWT.
 Selesai wajib militer, saya langsung menumpahkan segenap rasa rindu kepada kekasih hati. Saat itu adalah musim semi. Musim cinta dan keindahan. Malam itu saya tatap matanya yang indah, wajahnya yang putih bersih. Ia tersenyum manis. Saya reguk segala cintanya. Saya teringat puisi seorang penyair Palestina yang memimpikan hidup bahagia dengan pendamping setia dan lepas dari belenggu derita. Sambil menatap kaki langit Kukatakan kepadanya :

Di sana... di atas lautan pasir kita akan berbaring
Dan tidur nyenyak sampai subuh tiba
Bukan karna ketiadaan kata-kata
Tapi karena kupu-kupu kelelahan
Akan tidur di atas bibir kita
Besok, oh cintaku... besok
Kita akan bangun pagi sekali
Dengan para pelaut dan perahu layar mereka
Dan akan terbang bersama angin
Seperti burung-burung

Yah... saya pun memimpikan demikian. Ingin rasanya istirahat dari nestapa dan derita. Saya utarakan mimpi itu kepada istri tercinta. Namun dia ternyata punya pandangan lain. Dia malah bersih keras untuk masuk Program Magister bersama! “Gila... ide gila!!!” pikirku saat itu. Bagaimana tidak... ini adalah saat paling tepat untuk pergi meninggalkan Mesir dan mencari pekerjaan sebagai dokter di negara Teluk, demi menjauhi permusuhan keluarga yang tidak berperasaan. Tetapi istri saya tetap bersikukuh untuk meraih gelar Magister dan menjawab logika yang saya tolak:
Kita berdua paling berprestasi dalam angkatan  kita  dan  mendapat  tawaran  dari Fakultas sehingga akan mendapatkan keringanan biaya. Kita harus sabar sebentar menahan derita untuk meraih keabadian cinta dalam kebahagiaan. Kita sudah kepalang basah menderita, kenapa tidak sekalian kita rengguk sungsum penderitaan ini. Kita sempurnakan prestasi akademis kita, dan kita wujudkan mimpi indah kita.”
Dia begitu tegas. Matanya yang indah tidak membiaskan keraguan atau ketakutan sama sekali. Berhadapan dengan tekad baja istriku, hatiku pun luluh. Kupenuhi ajakannya dengan perasaan takjub akan kesabaran dan kekuatan jiwanya. Jadilah kami berdua masuk Program Magister. Dan mulailah kami memasuki hidup baru yang lebih menderita. Pemasukan pas-pasan, sementara kebutuhan kuliah luar biasa banyaknya, dana untuk praktek, buku, dll. Nyaris kami hidup laksana kaum Sufi : makan hanya dengan roti dan air. Hari-hari yang kami lalui lebih berat dari hari-hari awal pernikahan kami. Malam hari kami lalui bersama dengan perut kosong, teman setia kami adalah air keran.
Masih terekam dalam memori saya, bagaimana kami belajar bersama dalam suatu malam sampai didera rasa lapar yang tak terperikan, Kami obati dengan air. Yang terjadi malah kami muntah-muntah. Terpaksa uang untuk beli buku kami ambil untuk pengganjal perut. Siang hari, jangan tanya... kami terpaksa puasa. Dari keterpaksaan itu, terjelmalah kebiasaan dan keikhlasan.
Meski demikian melaratnya, kami merasa bahagia. Kami tidak pernah menyesal atau mengeluh sedikitpun. Tidak pernah saya melihat istri saya mengeluh, menagis dan sedih ataupun marah karena suatu sebab. Kalaupun dia menangis, itu bukan karena menyesali nasibnya, tetapi dia malah lebih kasihan kepada saya. Dia kasihan melihat keadaan saya yang asalnya terbiasa hidup mewah, tiba-tiba harus hidup sengsara layaknya gelandangan. Sebaliknya, sayapun merasa kasihan melihat keadaannya. Dia yang asalnya hidup nyaman dengan keluarganya, harus hidup menderita di rumah kontrakan yang kumuh dan makan ala kadarnya. Timbal balik perasaan ini ternyata menciptakan suasana mawaddah yang luar biasa kuatnya dalam diri kami. Saya tidak bisa lagi melukiskan rasa sayang, hormat, dan cinta yang mendalam padanya.
Setiap kali saya angkat kepala dari buku, yang tampak di depan saya adalah wajah istri saya yang lagi serius belajar. Kutatap wajahnya dalam-dalam. Saya kagum pada bidadari saya ini. Merasa diperhatikan, dia akan mengangkat pandangannya dari buku dan menatap saya penuh cinta dengan senyumnya yang khas. Jika sudah demikian, penderitaan terlupakan semua. Rasanya kamilah orang yang paling berbahagia di dunia ini.  “Allah menyertai orang-orang yang sabar, sayang...” bisiknya mesra sambil tersenyum.
Lalu kami teruskan belajar dengan semangat membara. Allah Maha Penyayang. Usaha kami tidak sia-sia. Kami berdua meraih gelar Magister dengan waktu tercepat di Mesir. Hanya 2 tahun saja! Namun, kami belum keluar dari derita. Setelah meraih gelar Magister pun kami masih hidup susah, tidur di atas kasur tipis dan tidak ada istilah makan enak dalam hidup kami. Sampai akhirnya rahmat Allah datang juga. Setelah usaha keras, kami berhasil meneken kontrak kerja di sebuah rumah sakit di Kuwait. Dan untuk pertama kalinya, setelah 5 tahun berselimut derita dan duka, kami mengenal hidup layak dan tenang. Kami hidup  di rumah yang mewah, merasakan kembali tidur di kasur empuk dan kembali mengenal masakan lezat.
Dua tahun setelah itu, kami dapat membeli villa berlantai dua di Heliopolis, Kairo. Sebenarnya, saya rindu untuk kembali ke Mesir setelah memiliki rumah yang layak. Tetapi istriku memang ‘edan’. Ia kembali mengeluarkan ide gila, yaitu ide untuk melanjutkan program Doktor Spesialis di London, juga dengan logika yang sulit saya tolak: “Kita dokter yang berprestasi. Hari-hari penuh derita telah kita lalui, dan kita kini memiliki uang yang cukup untuk mengambil gelar Doktor di London. Setelah bertahun-tahun hidup di lorong kumuh, tak ada salahnya kita raih sekalian jenjang akademis tertinggi sambil merasakan hidup di negara maju. Apalagi pihak rumah sakit telah menyediakan dana tambahan.”
 Kucium kening istriku, dan Bismillah... kami berangkat ke London. Singkatnya, dengan rahmat Allah, kami berdua berhasil menggondol gelar Doktor dari London. Saya spesialis syaraf dan istri saya spesialis jantung. Setelah memperoleh gelar doktor spesialis, kami meneken kontrak kerja baru di Kuwait dengan gaji luar biasa besarnya. Bahkan saya diangkat sebagai direktur rumah sakit, dan istri saya sebagai wakilnya! Kami juga mengajar di Universitas. Kami pun dikaruniai seorang putri yang cantik dan cerdas. Saya namai dia dengan nama istri terkasih, belahan jiwa yang menemaniku dalam suka dan duka, yang tiada henti mengilhamkan kebajikan.
 Lima tahun setelah itu, kami pindah kembali ke Kairo setelah sebelumnya menunaikan “ibadah haji” di Tanah Haram. Kami kembali laksana raja dan permaisurinya yang pulang dari lawatan keliling dunia. Kini kami hidup bahagia, penuh cinta dan kedamaian setelah lebih dari 9 tahun hidup menderita, melarat dan sengsara. Mengenang masa lalu, maka bertambahlah rasa syukur kami kepada Allah swt dan bertambahlah rasa cinta kami.
 Ini Kisah Nyata yang saya sampaikan sebagai nasehat hidup. Jika hadirin sekalian ingin tahu istri salehah yang saya cintai dan mencurahkan cintanya dengan tulus, tanpa pernah surut sejak pertemuan pertama sampai saat ini, di kala suka dan duka, maka lihatlah wanita berjilbab biru yang menunduk di barisan depan kaum ibu, tepat di sebelah kiri artis berjilbab Huda Sulthan. Dialah istri saya tercinta yang mengajarkan bahwa penderitaan bisa mengekalkan cinta. Dialah Prof Dr Shiddiqa binti Abdul Aziz...”
................................................ 

Tepuk tangan bergemuruh mengiringi gerak kamera video menyorot sosok perempuan separoh baya yang tampak anggun dengan jilbab biru. Perempuan itu tengah mengusap kucuran air matanya. Kamera juga merekam mata Huda Sulthan yang berkaca-kaca, lelehan air mata haru kedua mempelai, dan segenap hadirin yang menghayati cerita ini dengan seksama.



_____________________________________

Sumber Tulisan dicopas dari :


http://amiehamasah.multiply.com/khutbah-nikah.
http://subliyanto.blogspot.com/2011/05/kisah-cinta-seorang-profesor.html
http://ebook.mw.lt/jowo/txtceritacinta.txt.