Sabtu, 21 September 2013

CIRI-CIRI RASULULLAH SAW. YANG HADIR DALAM MIMPI AL-HABIB MUNDZIR AL-MUSAWA

الصَّلاَةُ وَ السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا سَيِّدِيْ يَا رَسُوْلَ اللَّهْ
Ketika ada seorang jamaah bertanya kepada al-Habib Mundzir al-Musawa tentang pertemuannya dengan Baginda Rasulullah Saw., maka beliau pun menjawab:

“Saya sebenarnya kurang berkenan menjawab namun saya pun tak berani berdusta. Saya sering berjumpa dengan Rasulullah Saw., dan sesekali ada hal berupa wasiat dan nasihat.

Ciri-ciri Rasulullah Saw. yang nampak dalam mimpi al-Habib Mundzir adalah:
1. Cambang dan janggut beliau sangat hitam gelap kebiru-biruan dari gelapnya.
2. Wajah beliau bagaikan mutiara yang bercahaya.
3. Senyumnya tak pernah sirna dari bibir indahnya.
4. Hati serasa linu dan seakan akan mencair karena keindahan wajah Sang Nabi Saw.
5. Lezat memandang wajah beliau Saw. terasa linu ke sekujur tubuh seakan lebih dari 1000x rasanya ejakulasi. Sekujur tubuh serasa linu tak terperikan.
6. Jari-jemari beliau lentik dan lembut dan sangat indah.
7. Tingginya sekitar 200 cm.
8. Imamahnya putih dan besar.
9. Kedua matanya sangat indah dan memancarkan kesejukan dan penuh kasih sayang.
10. Membuat orang yang memandang matanya ingin luluh dan bersimpuh berlutut di kakinya dan menangis bagaikan bayi manja yang memeluk ibunya karena tak melihat yang lebih mengasihinya selain ibunya.
11. Ucapannya dan suara beliau Saw. berwibawa, namun lembut dan perlahan hampir berbisik, namun jelas dan sangat merdu



Sumber : https://www.facebook.com/groups/alumni.krapyak/


 
 
 

Jumat, 02 Agustus 2013

WEJANGAN MANTEN KH Ali Maksum





KH Ali Maksum


Ananda kedua mempelai yang tersayang. Hari ini adalah hari yang berbahagia bagi ananda berdua, karena cinta kasih yang murni telah berpadu di dalam hatimu berdua. Telah diresmikan perpaduan itu di dalam jalinan perkawinan yang sudah lama anda idam-idamkan.
Perkawinan itu memang suatu acara ibadah Islam yang amat menggembirakan khususnya bagi mempelai berdua dan umumnya bagi keluarga serta handai taulan terdekat bagi yang bersangkutan.
Di sini kita mengayubagyo terhadap mempelai, berharap semoga keluarga baru itu sukses, selalu bersyukur atas terselenggarakannya pernikahan dan berpikir panjang tentang langkah-langkah kehidupan baru tersebut. Jadi disinilah berkumpul hal-hal yang menyenangkan dan hal-hal yang melelahkan otak. Karena itu, seorang yang bijak mengatakan, “Perkawinan adalah salah satu bentuk lotre”.
Mengingat itu semua, maka akad nikah selalu ditutup dengan do’a, semoga awal yang berbahagia ini akan berakhir dengan bahagia dan berjalan dengan penuh bahagia juga. Amien!
Selain berfungsi biologis, nikah juga berfungsi sosial. Nikah itu benar-benar merupakan awal hidup baru, situasi baru, pandangan baru, dan orientasi baru. Situasi kehidupannya menjadi terasa lebih mantap, mapan, tidak canggung, dan jelas arah hidupnya, di samping berbagai harapan baru bermunculan, juga berdatangan berbagai kesulitan yang bertubi-tubi, bahkan yang semula tak terlintas sama sekali.
Oleh karena itulah Allah menjamin bahwa dengan nikah itu akan timbul ketenangan yang hal ini menjadi kunci segala kesulitan. Tinggal kita sendiri dapat atau tidakkah menggapai hikmah yang besar itu? Dalam hal ini Allah berfirman dalam Al-Qur’an :
Artinya : “Dan diantara tanda-tanda kebesaran Allah yaitu Dia menciptakan untuk kalian pasangan dari jenismu sendiri, supaya kamu tenteram bersamanya, dan dijadikan rasa kasih dan sayang diantara kamu.” (QS Ar-Rum : 21)
Inilah salah satu hikmah terbesar dalam nikah tersebut.
Berdasar itu semua, agama menganjurkan agar pernikahan itu menjadi ibadah hendaknya diniyati mengikuti Sunnah Rasul. Berarti bukan sekedar dorongan biologis dan nafsu birahi.
Dengan niat suci tersebut dalam realisasinya dapat dikembangkan menjadi berfungsi syi’ar Islam atau pengembangan sayap kerukunan secara lebih luas dalam masyarakat. Sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi kita sendiri, atau berfungsi sebagai pengikat keakraban yang lebih intim, sebagaimana yang dilakukan oleh Iskandar Dzulqarnain atau Alexander Maqduni. Setelah berhasil dengan penaklukan besarnya di negeri-negeri Asia, beliau mengawini puteri Raja Darius.
Pernikahan yang dilakukan atas dasar dorongan biologis, sesungguhnya kurang bermakna, karena tidak akan pernah membawa kepuasan dan dengan demikian ketenangan tidak pernah kunjung tiba, yang ada hanya kurang puas, ingin yang lain, ingin coba ini dan itu.
Di kala Siti Fatimah, puteri Nabi akan dimadu oleh suaminya Ali bin Abi Thalib, maka dengan serta merta Nabi menyatakan: “Kalau anakku Fatimah engkau madu, lebih baik ceraikan saja.
Mungkin sekali Nabi melihat bahwa kehendak Ali ini terdorong oleh nafsu birahi, ini bukan karena bermadu itu terlarang dalam Islam, tetapi perlu dilihat lebih dahulu latar belakang apa sebabnya sehingga perbuatan ini terpaksa dilakukan.
Sebagaimana tadi yang telah saya terangkan tadi bahwa: “Perkawinan adalah suatu bentuk lotere, jadi kadang-kadang undiannya beruntung dan kadang-kadang gagal.” Kami yakin, asalkan ananda berdua rukun saling pengertian, saling menyayangi, dan saling bantu membantu, Insya Allah akan mendapatkan jalan keluar yang menggembirakan.
Ambil filsafah burung merpati “Anggone rukun mesra-mesraan” : Nek sing wedhok ngendog, sing lanang gantenan ngangkremi, ugo nek endhog wis netes metu piyik, gantenan nglolohi. Ojo pisan-pisan nyontoh filsafah pitik : Nek babone wis ngendog, jagone nggolek yang-yangan maneh. Luwih-luwih, wal ‘iyadlu billah, ojo niru coro bebek, nek wis ngendog, lanange-wadone ora tanggung jawab, emoh ngangkremi.
Kedua. Dalam menatap kehidupan, pada umumnya lelaki lebih memerankan pikiran, sedang wanita lebih memerankan perasaan atau emosi, karena itu seorang lelaki biasanya mudah mengabaikan hal-hal yang kelihatan kecil dan orang wanita mudah marah dan iri hati terhadap tetangga, dalam hal ini ananda sebagai suami harus jangan membikin suasana tegang. Tapi buatlah suasana rumah tangga selalu cerah dan santai tetapi berwibawa.
Imam Ghozali dalam Kitab Ihya’ Ulumuddin menyebut salah satu adab pergaulan suami-istri ialah : “Hendaklah suami suka mengajak kelakar dan bergurau dalam rangka meringankan tanggungan beban moral rumah tangga, karena gurauan dan rayuan itulah yang mampu menghibur hati wanita.
Disebutkan dalam sebuah hadits Nabi yang artinya : “Adalah Rasulullah itu orang yang banyak bercanda dan bergurau dengan permaisurinya”. HR. Abu Dawud, Nasa’i, dan Ibnu Majah.
Dalam kenyataannya, Nabi pernah balapan dengan Siti Aisyah permaisurinya tersayang, terkadang Nabi menang dan terkadang Aisyah yang menang.
Demikian inilah cara bergaul dengan istri, meskipun ananda tidak harus balapan lari, tapi bisa saja balapan apa-apa di dalam kamar.
Ketiga : Ananda sebagai istri harus membawa penampilan yang menarik hati kakanda. Misalnya baru pulang kerja, badan penat, dan mungkin di jalan tadi sempat melirik jin-jin wanita yang berlagak. Maka ananda harus menyam-butnya dengan penuh menyenangkan dan roman muka yang berseri, juga tutur kata yang mesra dan penampilan yang mempesona. Bagi lelaki dalam situasi lelah, sesungguhnya lebih memerlukan santapan rohani daripada santapan jasmani.
Demikianlah petuah, yang senada dengan hadits Nabi yang artinya: “Sebaik-baik istri kalian ialah yang jika dipandang suaminya menyenangkan, jika diperintah mematuhi dan jika suami tidak berada di rumah, maka ia memelihara kehormatan dirinya dan harta suaminya.”
Keempat : Untuk lebih memesrakan pergaulan, maka bermanja-manja itu diperkenankan dalam Islam, asal saja secara terbatas dan hanya hubungan suami istri. Nabi bersabda, yang artinya : “Pilihlah yang masih gadis, engkau dapat mempermainkannya dan dia juga dapat mempermainkanmu” (HR. Bukhori-Muslim).
Wah…!! hadits ini hadits mana tahaaan!! Ternyata hadits ini dikatakan oleh Imam Ghazali dalam kaitannya dengan kebolehan bermanja-manja tersebut. Kalau kita cermati lebih jauh, maka diketahui bahwa sikap manja itu diperbolehkan sampai dalam batas saling mempermainkan.
Lebih jauh Sayyidina Umar R.A. yang keras itu menyatakan yang artinya : “Suami itu jika di rumah (pergaulannya dengan istri) seyogyanya bersikap seperti anak kecil, dan jika diperlukan orang lain baru menunjukkan kebolehannya sebagai lelaki dewasa
Kelima : Sikap cemburu itu dianjurkan oleh Islam, sebagaimana yang dinyatakan dalam hadits yang artinya : “Sesungguhnya aku ini pencemburu, dan barang siapa yang tidak mempunyai rasa cemburu, maka orang itu senewen!” .
Tapi cemburu yang berlebih-lebihan adalah dilarang oleh agama, sebab berarti buruk sangka dan tidak percaya kepada suami atau istri. Oleh karena itu Nabi bersabda dalam hadits lain, yang artinya :  Sesungguhnya diantara bentuk cemburu ada yang dibenci oleh Allah, yaitu cemburunya istri atau suami dalam hal-hal yang tidak perlu dikhawatirkan” HR. Abu Dawud dan Ibnu Hibban.
Keenam : Akhirnya kedua-duanya supaya saling cinta-mencintai, Karenanya ……… (nama suami) harus menganggap tidak ada wanita yang cantik dan molek mempesona melainkan hanya ……… (nama isteri) seorang. Dan …… (nama isteri) menganggap tidak ada pria yang tampan sedap dipandang mata melainkan hanya ……… (nama suami)  jua. Kedua-duanya sudah menutup pemilihan jodohnya.  ………(nama isteri)  adalah pendamping yang tercinta, dan …… (nama suami) adalah suami yang bijaksana tempat penggantungan jiwa. Tanpa …… (nama isteri) hidup tiada berarti, dan tanpa …… (nama suami) hayat bagaikan mati, nasi terasa segam, air terasa duri.
Hadirin sekalian! Sesungguhnya masih banyak yang akan kami sampaikan di sini, tetapi saya kira pengantinnya setelah mendengar wejangan-wejangan saya yang “mana tahan” ini, koq sudah senggol-senggolan. Maka terpaksa kami cukupkan sekian saja dan selanjutnya anda berdua supaya berdiskusi sendiri tentang apa yang harus dilakukan di malam hari, terutama do’a apa yang harus dibacakan kalau mau tidur, atau kalau mau apa-apa!!
Demikianlah apa yang bisa kami sampaikan kali ini, semoga bermanfaat bagi pengantinnya dan untuk kita semua “Para bekas-bekas pengantin agar dapat bernostalgia kembali”
Sekian, kurang lebihnya minta maaf.
Ya Allah, berkahi kedua mempelai ini, himpun mereka berdua dalam kebaikan dunia akhirat. Jadikan kehidupan mereka berdua kehidupan yang baik dan bahagia, kehidupan penuh kasih dan sayang, kehidupan mawaddah dan rahmah, kehidupan yang tenang dan sejahtera, kehidupan yang penuh nikmat dan lapang. Ya Allah, jadikan mereka berdua termasuk dalam hamba-hambaMu yang mukmin, sholeh, muttaqi, yang berdaya guna bagi Islam dan muslimin. Semoga Allah mencurahkan kasih rahmatNya untuk sayyidina Muhammad, seluruh keluarga dan sahabat-sahabatnya.


______________________________

*) Diambil dari buku berjudl “SINGKAT PADAT : Biografi, Jawami’ul Kalim, Asmaul Husna, Syi’iran dan Wejangan Manten KH ALI  MAKSHUM”, oleh Achmad Suchaimi. Surabaya : Athena Sejahtera; cet.1 - 2011












Kamis, 27 Juni 2013

AMAN - 7. Amaliah Berziarah Kubur




Oleh KH Ali Maksum

هل تجوز زيارة القبور؟


زيارة  القبور تجيزها مذاهب المسلمين كلها, و تشرح للزائر ادابها. و هي سنة رسول الله صلى الله عليه و سلم. فقد زار عليه الصلاة و السلام بنفسه القبور و علّم أصحابه كـيف يزورون القبور فعلا في حياته الدنيوية صلى الله عليه و سلم.
أما زيارته صلى الله عليه و سلم للقبور فيدلّ ما رواه مالك عن عائشة رضي الله عنها, أنه صلى الله عليه و سلم أخبرها أن جبريل جاءه, فقال له : إن ربّك يأمرك ان تأتي اهل البقيع, فتستغفر لهم. و أنه صلى الله عليه و سلم جاء  البقيع, فقام و أطال القيام, ثم رفع يديه ثلاث مرات. و انها رضي الله عنها قالت له : كـيف أقول لهم؟. فقال : قولي السلام عليكم اهل الديارمن  المؤمنين و المسلمين, و يرحم الله المستقدمين منكم و المستأخرين, و إنا إن شاء الله بكم لاحقون.
بل روي عن سيّدتنا عائشة رضي الله عنها, أن زيارة البقيع كانت عادة للنـبي صلى الله عليه و سلم. و هذا لفظه :
كان رسول الله صلى الله عليه و سلم كلما كانت ليلتها من رسول الله صلى الله عليه و سلم يخرج آخر الليل الى البقيع, فيقول : السلام عليكم دار قوم مؤمنين, و آتاكم ما توعدون غدا مؤجّلون, و إنّا إن شاء الله بكم لاحقون. اللهم اغفر لأهل بقيع الغرقد( رواه مسلم ).
و أما زيارة المؤمنين  في عهده صلى الله عليه و سلم و تعليمه لهم كـيف يزورون, فاسمع شيئا مما يدل على ذلك:
- روى البخاري و مسلم حديث المرأة التي كانت تزور قبر صبـي لها و تبكي, فلم ينهها صلى الله عليه و سلم عن زيارتها, و إنما قال لها : اتـّقي و اصبري. و قال لها : الصبر عند الصدمة الأولى.
- و روى مسلم, انه صلى الله عليه و سلم كان يعلّم الصحابة إذا خرجوا الى المقابر ان يقولوا : السلام عليكم اهل الديار من  المؤمنين و المسلمين و المسلمات, و انا إن شاء الله بكم للاحقون, أسأل الله لنا و لكم العافية.
نعم, كانت زيارة القبور منـهيّا عنها في صدر الإسلام. و الناس قريبو عهد بجاهيلة. ثم نسخ ذلك بقوله صلى الله عليه و سلم و فعله. أما فعله فقد سمعته. و أما قوله فهو : كـنتُ نهيتكم عن زيارة القبور, فزوروها. فقد أذن لـمحمد في زيارة قبر أمهه, فزوروها فإنـها تذكّر الآخرة . (اخرجه مسلم و ابو داود و الترمذي و ابن حبان و الحاكم)
و في حديث آخر أخرجه الحاكم : فزوروا القبور, فإنها تذكّـر الآخرة.
و كان صلى الله عليه و سلم يزور قبور شهداء أحد و قبور أهل البقيع, و يسلّم عليهم و يدعو لهم بما تقدّم. (رواه مسلم و احمد و ابن ماجه)
و اختلف في زيارة النساء للقبور. فقال جماعة من اهل العلم بكـراهيتها كراهة تحريم او تنزيه, لحديث أبي هريرة, أن رسول الله صلى الله عليه و سلم لعن زوّارات القبور (رواه أحمد و ابن ماجه و الترمذي).
و ذهب الأكـثرون الى الجواز أذا أُمنت الفـتنة و استدلوا بما رواه مسلم عن عائشة, قالت : كيف أقول يا رسول الله إذا زرت القبور؟ قال : قولي السلام عليكم أهل الديار المؤمنين -  الحديث-. و بما أخرجه البخاري, أنّ  النـبيّ مـرّ بامرأة تبكي عند قبر صـبيّ لها, فقال : اتّقي الله و اصبري-  الحديث-. و لم ينكر عليها الزيارة. و بما رواه الحاكم , أنّ فاطمة كانت تزور قبر عمّها حمزة كل  جمعة. و بحديث عبد الله بن ابي مليكة, أنّ عائشة أقبلت ذات يوم الى المقابر, فقلت لها : يا أمّ المؤمنين, من أين أقبلتِ؟ فقالت : من قبر أخي عبد الرحمن. فقلت لها : أليس كان ينهى  رسول الله صلى الله عليه و سلم عن زيارة القبور؟. قالت : نعم, كان نهى عن زيارة القبور, ثمّ أمر بزيارتها.
و من هنا يعلم الجواب عن ابي هريرة و يجاب عنه ايضا بأنه محمول على الزيارة التي تقـترن بها فتنة او محرّم كالندب و نحوه, او بحمله على المكـثرات من الزيارة لما تقتضيه الصيغة (الزوّارات) من المبالغة, و لعلّ السبب ما يفضي ذلك من تضيـيع حقّ الزوج و التـبرّج و ما ينشأ عنه من الصياح و نحو ذلك. فإذا أمن ذلك , فلا بأس من زيارتهن لاحتياجهن الى تذكـر الموت كالرجال. اه. (منقولا باختصار و تصرّف عن غوث العباد لمصطفى الحمامي و فتاوي الشيخ حسنين محمد مخلوف)
و فى الفتاوى المذكورة, انعقد الإجماع على أن من السنة زيارة الرجال القبور بعد ان كان منهيّا عنها في صدر الإسلام الى ان قال : و قد أخذ بعض فقهاء الشافعية بظاهر هذا الحديث ( يـعنـي حديث لـعن زوّارات القبور ). فقالوا : إن زيارة النساء القبور حرام و مكروهة كراهة تحريم. و تعقّبه النووي فى الـمجموع بأنه قول شاذّ فى المذهب. و الذي قطع به الجمهور أنها جائزة مع الكراهة التـنزيهية. و نـقل عن صاحب البحر وجهين للشافعية : احدهما الكراهة كما قال الجمهور. و الأخر عدم الكراهة. و قال : انه الأخصّ عندي اذا أمـن الإفتـتان.
نعم, قد يكون هناك شيـئ من آفات زيارة القبور, و هو أن الناس يخرجون اليها في بعض الجهات بحالة تنافي الدين, فيختلط الرجال بالنساء فى الطرق و على المقابر اختلاطا لا يرضاه عقل و لا دين. و على المقابر يأكلون و يشربون و ينامون و يتـبرّزون و يفعلون ما يفعلون ما يستحي القلم عن تسطيره. فالزيارة التي هذا حالها لا تجوز لعارض, لا لأنها زيارات.
و بعد, فإنا نقول لأولـئك الذين يمنعون زيارة القبور : نرجوكم ان تقرؤوا هذا لـتروا بأنفسكم انكم في واد و دين الإسلام في واد أخر. و لعلكم اذا رأيتموه أقلعتم عما أنتم عليه من تحريم تلك الزيارة أشدّ التحريم و النظر الى من  يجيزها او يفعلها بعـين الاحتقار و الإزدراء و تسميته قبوريّا, فلا حول و لا قوة الا بالله العلي العظيم.
فما أشد جهلكم بمذاهب المسلمين كلها, فهي تجيز تلك الزيارة و تشرح للزائر آدابها, و جهلكم بسنة رسول الله صلى الله عليه و سلم, فإنه صلى الله عليه و سلم زار القبور بنفسه و علّم اصحابه كـيف يزورونها كما علمت, و تـبعهم على ذلك كل هذه الأمة من عهدهم لليوم. و هذه كـتب العلماء خنفية و مالكية و شافعية  و حنبلية و غيرهم, بها بـيان تلك  الزيارة . و كـذلك دواوين السنة النبوية مـفعمة بـبيان جوازها و الندب اليها و كـيف تكون. و من رأى كل هذا ثمّ أنكره, فلا حيلة لنا فيه, و أمره الى ربـه. و الله أعلم.


 TERJEMAH
 Semua madzhab dalam islam memperbolehkan ziarah kubur dan menjelaskan adab sopan santunnya. Ziarah kubur merupakan sunnah (tradisi, perilaku) Rasulullah SAW. Beliau benar-benar melakukannya sendiri ketika masih hidup di dunia dan mengajari para sahabatnya tentang bagaimana cara ber-ziarah yang benar.[1]

Perilaku ­ziarah beliau ditunjukkan oleh hadis yang diriwayatkan imam Malik dari ‘Aisyah ra. Beliau SAW pernah memberitahukan kepada ‘Aisyah, bahwa malaikat Jibril menemui beliau seraya berkata :
إِنَّ رَبَّكَ يَأْمُرُكَ أَنْ تَأْتِيَ اَهْلَ الْبَقِيْعِ فَتَسْتَغْفِرُ لَهُمْ
Artinya : Tuhanmu memerintahkanmu agar mendatangi ahli kubur Baqi’, untuk memintakan ampunan buat mereka”.[2]

Beliau SAW akhirnya datang ke pekuburan Baqi’, dan berdiri agak lama sambil mengangkat kedua tangannya tiga kali (untuk berdoa memohonkan ampunan). Aisyah ra bertanya, “Apa yang aku ucapkan untuk mereka?”. Jawab beliau : “Ucapkan salam :
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ  الْمُؤْمِنِيْنَ وَ الْمُسْلِمِيْنَ, وَ يَرْحَمُ اللَّهُ الْمُسْتَقْدِمِيْنَ مِنْكُمْ وَ الْمُسْتَأْخِرِيْنَ, وَ إِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَاحِقُوْنَ
Artinya :Salam sejahtera atas kalian, wahai penghuni kubur dari kalangan kaum mukminin dan muslimin. Semoga Alloh merahmati para pendahulu diantara kalian dan orang-orang yang datang kemudian. Sungguh, kami Insya Allah akan menyusul kalian.

Bahkan Imam Muslim meriwayatkan dari Aisyah ra, bahwa menziarahi pekuburan Baqi’ merupakan adat kebiasaan Rasulullah SAW.
كَانَ رَسُوْلُ اللَّهِ  كُلَّمَا كَانَتْ لَيْلَتُهَا مِنْ رَسُوْلِ اللَّهِ   يَخْرُجُ آخِرَ اللَّيْلِ اِلَى الْبَقِيْعِ, فَيَقُوْلُ : اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِيْنَ, وَ آتَاكُمْ مَا تُوْعَدُوْنَ غَدًا مُؤَجَّلُوْنَ, وَ إِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَاحِقُوْنَ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِأَهْلِ بَقِيْعِ الْغَرْقَدِ( رواه مسلم )
Artinya : Adalah Rasulullah saw, setiap kali giliran menginap di rumah Aisyah ra, beliau keluar rumah pada akhir malam menuju ke makam Baqi’ seraya mengucapkan salam :
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِيْنَ, وَ آتَاكُمْ مَا تُوْعَدُوْنَ غَدًا مُؤَجَّلُوْنَ, وَ إِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَاحِقُوْنَ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِأَهْلِ بَقِيْعِ الْغَرْقَدِ
Artinya :Salam sejahtera atas kalian, wahai penghuni kubur dari kalangan kaum mukminin. Segera datang apa yang dijanjikan kepada kalian besok. Sungguh, kami Insya Allah akan menyusul kalian. Ya Allah ampunilah penghuni kubur Baqi’ Gharqad”. (HR Muslim).

Mengenai kondisi ziarah kuburnya kaum muslimin di masa Rasulullah saw dan pengajaran beliau kepada mereka tentang bagaimana seharusnya berziarah, simaklah beberapa hadis berikut ini:
1. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadis tentang seorang wanita yang menziarahi makam anaknya sambil menangis. Sementara Rasulullah sendiri tidak melarang wanita tersebut menziarahinya. Beliau saw hanya mengingatkannya :
اِتَّقِيْ وَ اصْبِرِيْ. وَ قَالَ لَهَا : اَلصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ اْلأُوْلَى.
Artinya :Bertakwalah dan bersabarlah”, dan bersabda kepadanya : “Sabar itu dilakukan pada saat awal menerima cobaan
2. Imam Muslim juga meriwayatkan hadis, bahwa Rasulullah saw pernah mengajari para sahabatnya jika mereka keluar berziarah kubur, agar mereka mengucap-kan :
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ الْمُؤْمِنِيْنَ وَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ, وَ إِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَاحِقُوْنَ. أَسْأَلُ اللَّهَ لَنَا وَ لَكُمُ الْعَافِيَةَ.
Artinya :Salam sejahtera atas kalian, wahai penghuni kubur dari kalangan kaum mukminin, muslimin dan muslimat. Sungguh, kami Insya Allah akan menyusul kalian. Saya mohon kepada Allah agar kami dan kalian mendapatkan kesejahteraan.

Memang benar, bahwa ziarah kubur pernah dilarang pada awal periode datangnya Islam dan pada saat itu kaum muslimin masih dekat dengan jaman jahiliyah. Larangan tersebut lalu di-nasakh (dihapus, dinyatakan tidak berlaku) dengan sabda dan perbuatan nyata beliau. Perbuatan nyata beliau saw dalam berziarah sudah anda dengar di muka. Sedangkan sabda beliau adalah :
كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُوْرِ, فَزُوْرُوْهَا, فَقَدْ أُذِنَ لِمُحَمَّدٍ فِي زِيَارَةِ قَبْرِ أُمِّهِ, فَزُوْرُوْاهَا فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْآخِرَةَ . (اخرجه مسلم و ابو داود و الترمذي و ابن حبان و الحاكم)
Artinya : Dulu Aku pernah melarang kalian berziarah kubur. Maka (sekarang), lakukan ziarah kubur. Muhammad benar-benar telah diizinkan menziarahi makam ibunya. Karena itu, berziarahlah kubur, karena ziarah kubur itu dapat mengingatkan (kehidupan) akhirat”. (HR Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Hibban dan al-Hakim).

Didalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Al-Hakim, disebutkan : “Berziarahlah ke kubur, karena ia dapat mengingat (kehidupan) akhirat”.

Rasulullah SAW menziarahi kuburan syuhada’ Uhud dan kuburan ahli Baqi’. Beliau mengucapkan salam kepada mereka dan berdoa untuk mereka, sebagaimana yang dijelaskan di muka. (HR Muslim, Ahmad dan Ibnu Majah).

Hukum berziarah kubur bagi wanita masih diperselisihkan para ulama’. Sekelompok ulama memakruhkanya dengan status hukum makruh tahrim atau makruh tanzih, berdasarkan hadis dari Abu Hurairah ra
أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ  e لَعَنَ زَوَّارَاتِ الْقُبُوْرِ (رواه أحمد و ابن ماجه و الترمذي).
Artinya : Sesungguhnya Rasulullah SAW melaknat para wanita yang sering berziarah kubur.” (HR Ahmad, Ibnu Majah dan at-Tirmidzi).

Sementara sebagian besar ulama membolehkan kaum wanita berziarah kubur jika aman dari fitnah. Mereka mendasarkan pendapatnya pada beberapa hadis berikut :
1).   Hadis riwayat Muslim dari Aisyah ra.  Didalam hadis ini disebutkan pertanyaan ‘Aisyah ra kepada Rasulullah SAW : “Apa yang aku ucapkan sewaktu aku berziarah kubur?”. Jawab beliau : “Ucapkan Assalamu ‘alaikum ahlad-diyaril mukminin…
2).   Hadis riwayat Bukhari yang menjelaskan bahwa Rasulullah saw pernah melewati seorang wanita yang menangis di samping kuburan anaknya. Lantas beliau bersabda kepadanya :  اِتَّقِيْ وَ اصْبِرِيْ Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah”. Dan beliau sendiri tidak mengingkari ziarah yang dilakukan oleh wanita tersebut.  
 3). Hadis riwayat al-Hakim yang menjelaskan bahwa Fathimah ra menziarahi kuburan pamannya, Hamzah bin Abdul Muthalib setiap hari jum’at.
4).   Hadis riwayat Abdullah bin Abi Mulaikah ra menjelaskan,
أَنَّ عَائِشَةَ اَقْبَلَتْ ذَاتَ يَوْمٍ إِلَى الْمَقَابِرِ فَقُلْتُ لَهَا  : يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِيْنَ مِنْ أَيْنَ أَقْبَلْتِ , فَقَالَ  مِنْ قَبْرِ أَخِيْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ.   فَقُلْتُ لَهَا : أَلَيْسَ كَانَ يَنْهَى رَسُوْلُ اللَّهِ e عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُوْرِ؟   قَالَتْ نَعَمْ  كَانَ نَهَى عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُوْرِ ثُمَّ أَمَرَ بِزِيَارَتِهَا

Artinya, “’Aisyah ra pada suatu hari berjalan menuju ke lokasi pemakaman, lalu ditanya oleh Abdullah : “Wahai Ummul Mukminin! Dari mana engkau?”. “Dari kuburan saudara lelakiku, Abdurrahman” jawab Aisyah ra. Tanya Abdullah, “Bukankah Rasulullah saw telah melarang ziarah kubur?”. Jawab Aisyah, “Memang benar beliau pernah melarangnya. Namun beliau lalu memerintahkannya”.

Dari sini maka terjawablah larangan dari hadis Abu Hurairah di atas. Bahwa larangan tersebut terkait dengan ziarah yang dibarengi dengan fitnah, atau dibarengi dengan melakukan perbuatan haram seperti meratapi orang yang mati dan semisalnya, atau dikaitkan dengan seringnya kaum wanita berziarah, sebagaimana yang ditunjukkan oleh shighat mubalaghah Zawwaaraat” pada hadis tersebut. Barangkali penyebab lain dari larangan ziarah bagi wanita adalah dikhawatirkan ia menyia-nyiakan kewajibannya kepada suami, melakukan tabarruj (bersolek), dan melakukan hal-hal negatif lainnya seperti berteriak-teriak, menangis sambil menjerit-jerit dan semisalnya. Jika dampak negatif tersebut sudah hilang dan aman, kaum wanita boleh berziarah kubur, karena mereka tentu butuh untuk dzikrul maut (ingat mati), seperti kaum lelaki juga. (Dipetik secara ringkas dari kitab Ghautsul ‘Ibad, tulisan Mushthafa al-Hamami dan dari kitab Fatawi,  tulisan syaikh Hasanain Muhammad Makhluf).

Didalam kitab Fatawi tersebut dijelaskan, sudah menjadi kesepakatan di kalangan ulama, bahwa ziarah kubur bagi kaum lelaki adalah sunnah, setelah sebelumnya dilarang pada masa awal munculnya Islam. Sebagian ulama syafi’iyyah mengambil bunyi lahiriyah hadis “La’ana zawwaaraatil qubuur” sebagai dalil tentang keharaman dan makruh tahrim-nya kaum wanita berziarah kubur. Kemudian dikomentari oleh imam An-Nawawi didalam kitab Al-Majmu’, bahwa pendapat ini syadz (aneh dan langka) dikalangan madzhab syafi’iyah. Yang jelas, jumhurul ulama’ memandangnya sebagai perbuatan yang diperbolehkan disertai makruh tanzih.  Imam Nawawi juga menukil dari penyusun kitab Al-Bahr dua pendapat dikalangan ulama syafi’iyyah : 1) hukumnya makruh, sebagaimana pendapat jumhurul ulama,  2) hukumnya tidak makruh. Juga dijelaskan, bahwa tidak makruhnya wanita berziarah, menurut saya, merupakan pendapat yang lebih khas, jika aman dari fitnah.

Memang benar, bahwa ziarah kubur terkadang menimbulkan dampak negatif. Tidak sedikit orang yang pergi berziarah kuburan sambil melakukan perbuatan-perbuatan diluar tuntunan agama. Misalnya kaum lelaki dan wanita bercampur, baik di tengah perjalanan maupun di lokasi makam. Hal ini tentu tidak dibenarkan oleh akal dan hukum agama. Di lokasi makam, mereka makan-minum, tidur, bersolek (mejeng) dan melakukan perbuatan yang memalukan. Jika kondisinya seperti ini, maka ziarah kubur tidak dibolehkan, karena dapat mendatangkan fitnah atau dampak negatif, bukan semata-mata disebabkan bahwa ziarah kubur itu dilarang.

Perlu kami tegaskan kepada orang-orang yang anti dan melarang ziarah kubur, dan kami berharap supaya kalian membaca buku tulisan ini, agar kalian menyaksikan sendiri bahwa kalian sebenarnya berada di suatu jurang, sementara agama Islam berada di jurang yang lain. Jika kalian sudah mengetahui hal ini, kalian diharapkan membuang jauh-jauh sikap antipati seperti sikap anti ziarah, memandang sinis kepada orang yang membolehkan dan orang yang melakukannya, dan menjulukinya sebagai “Ahli Kubur” (penduduk kuburan). La haula wala quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘azhim.

Sikap kalian tersebut menunjukkan kekerdilan dan ketololan kalian terhadap seluruh ajaran madzhab dalam Islam, yang kesemuanya membolehkan berziarah kubur dan menjelaskan adab sopan santunnya bagi peziarah. Sekaligus menunjukkan kebodohan kalian terhadap sunnah Nabi (perilaku Nabi), karena beliau saw telah melakukan sendiri ziarah kubur dan mengajarkan kepada para sahabat tentang bagaimana tatacara berziarah, sebagaimana yang kalian ketahui dan diikuti oleh seluruh umat Islam sejak jaman sahabat sampai jaman sekarang. Kitab-kitab susunan para ulama, baik dari kalangan hanafiyah, malikiyyah, syafi’iyyah, hanabilah, maupun lainnya, terdapat penjelasan tentang bolehnya berziarah.. Demikian pula kitab-kitab hadis dipenuhi dengan penjelasan tentang kebolehan, anjuran dan tata cara ber-ziarah kubur. Siapa saja yang sudah mengetahui hal ini, lalu mengingkarinya, tidak ada daya bagi kami dalam hal ini selain menyerahkannya kepada Allah. Walloohu A’lam.





[1]  Syaikh Ali as Sumhudi berkata: "Jika ziarah kubur sunah, maka melakukan perjalanan untuk ziarah kubur juga sudah pasti sunah" (Khulashat al Wafa I/46).
[2]   HR Muslim No 2301 dan Ahmad No 25897